Seserahan Haruskah Mahal?

Kemarin di akun Taaruf Asik, ada kejadian yang cukup menyita perhatian soal seserahan.

berhenti pacaran

Salah satu pasangan taaruf yang sudah di taraf serius, mulai membahas mengenai biaya pernikahan. Kami sebagai admin tentu saja tidak mencampuri perihal ini. Karena biaya pernikahan konteksnya sudah berada di ranah dua keluarga yang terlibat.

Yang menarik adalah, ketika kita membahas biaya pernikahan (dalam hal ini seserahan).

Ketika awal menuju pernikahan, saat ditanya pihak lelaki “saya harus memberi seserahan dan mahar berapa?”

Kebanyakan wanita akan menjawab “terserah dari mas saja”

Mungkin sambil dalam hati berbisik “saya sih tidak mengharap harta apapun, bisa menikah denganmu saja aku sudah bahagia. Engkau tak tahu seberapa lama aku menantikan seorang lelaki yang serius ingin menikahiku. Sudah terlalu lama diri ini menjadi korban kepalsuan cinta dan rayuan mulut berbisa, dari para lelaki durjana yang hanya bisa berkata namun tiada tindakan nyata. Padahal, tiada banyak yang kuminta, hanya kepastian dalam kehalalan. Itu saja.”

Simple dan romantis bukan, bagaimana pikiran wanita bekerja?

Sangat indah dan mudah. Betapa entengnya sebuah pernikahan.

Itu harapan si wanita. (dan tentu saja, harapan si pria yang sebenarnya juga tak begitu banyak tabungannya)

Namun ketika pembicaraan sudah serius, dan melibatkan kedua pihak keluarga. Akankah sesederhana ini? Oh, tidak bisaaaaaa…

Seringnya, ketika sudah mencapai taraf keluarga besar. Pembicaraan jadi makin rumit.

Pernikahan tidak lagi sekedar pengucapan janji suci dan penyatuan dua insan.

Tapi sudah melibatkan banyak komponen yang lebih ruwet : adat istiadat setempat, kepantasan dalam lingkungan, martabat sanak kerabat, dan selebrasi penuh gengsi.

Keluarga besar akan mulai memikirkan bagaimana sebuah pernikahan yang dianggap layak. Pernikahan yang sesuai dengan gaya masyarakat sekitar. Bagaimana pernikahan ini menimbulkan kesan, bukan gunjingan, dari para tetangga. Dengan alasan bahwa ini adalah momen sekali seumur hidup.

Maka banyak yang harus diatur. Lokasinya harus bagus, gaun harus kembar, makanan harus berlimpah, undangan harus banyak, dekorasi harus memukau, dokumentasi harus lengkap, hiburan harus berkualitas, dan segala keharusan keharusan lain yang kemudian menjadi wajib dilakukan. Tidak boleh tidak.

Sialnya, semua keharusan ini (meski merupakan kemauan keluarga besar), beban biayanya ditanggungkan sepenuhnya kepada kedua mempelai (dan orangtua keduanya, seringkali).

Dalam banyak kasus, hal ini membuat sang mempelai pria tercekik dengan biaya tinggi. Untuk sebuah pesta sehari.

Kalaulah kedua mempelai dan keluarganya adalah orang berada, tentu tak jadi soal. Yang jadi masalah, ketika mereka adalah jelata biasa yang menyelenggarakan kemewahan ini dengan sangat terpaksa.

Lalu darimana semua pembiayaan kemewahan ini berasal? Hutang.

Sebuah keluarga yang baru akan dimulai, baru akan melepas sauh mengarungi samudera, sudah dibebani dengan setumpuk hutang. Atas nama cinta. Biar tidak bikin malu keluarga.

Seorang bijak pernah berkata “kalau nikah dibuat susah, maka zina akan merajalela”

Dan benarlah terjadi sekarang ini. Yang mau nikah ditodong dengan uang puluhan bahkan ratusan juta. Sementara mereka yang pacaran bebas tanpa biaya sepeserpun. Boleh bawa anak perempuannya kesana kemari, tanpa pengawasan orangtua.

Seharusnya kalau pernikahan dipersulit dengan biaya puluhan juta, maka pacaran pun dipersulit dengan biaya yang tak kalah besar.

“kamu mau ngapelin anak om? Sini biaya jaminan dulu 10 juta!”

Nah, dijamin si lelaki langsung mundur teratur sambil istighfar.

“adat istiadat disini, kalau mau jadian sama anak bapak harus ada uang jadian 30 juta. Dibayar di muka. Kalau putus uangnya hangus. Kalau selingkuh denda 10 juta lagi.”

Wuih, langsung para pemuda jadi jomblo sampai halal.

Para orangtua kenapa nggak mau seperti itu? Apa karena takut dikira membisniskan anak?

Mungkin para orangtua takut, kalau anaknya dibegitukan. Kemudian ada yang berani bayar beneran, habis itu anak perempuannya diapa apain sama si lelaki karena merasa sudah bayar.

Padahal yang orangtua nggak tahu, sekarang banyak anak perempuan yang diapa apain sama pacarnya, secara gratis.

Gratis plus bonus dosa besar.

Yang mau nikah disuruh bayar puluhan juta, yang mau zina digratiskan.

Belum lamai ini saya membuat polling di akun instagram @NikahAsik, saya bertanya mengenai berapa biaya seserahan yang pantas diberikan seorang pria, atau biaya seserahan yang diharapkan oleh pihak wanita.

Seserahan disini maksudnya adalah : sejumlah uang atau barang yang diberikan pihak lelaki kepada pihak wanita untuk acara pernikahan.

Untuk acaranya ya, bukan termasuk mahar. Karena kalau mahar itu kan diberikan kepada pengantin wanita dan menjadi hak milik dia. Sementara seserahan ini kan akan dipergunakan dalam acara yang nantinya dinikmati hasilnya oleh kedua belah pihak.

Saya memberikan dua pilihan saja dalam polling ini : dibawah 20 juta atau diatas 20 juta.

Dan hasilnya cukup mengejutkan!

Dari total 8300 lebih vote yang masuk, ternyata yang memilih “diatas 20 juta” lebih banyak daripada yang memilih “dibawah 20 juta”.

Meski selisihnya tidak terlalu banyak (yang memilih diatas 20 juta ada 4182 suara, sedangkan yang memilih dibawah 20 juta ada 4127 suara).

Namun tetap saja, hal ini menunjukkan bahwa animo kebanyakan orang di negeri kita masih berangggapan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang mahal harganya. Sehingga akhirnya memaksa banyak lajang untuk mempersiapkan diri sejak awal. Yang lucu, banyak dari para lajang ini begitu terfokus mencari modal menikah, sehingga lupa mencari ilmu menikah.

Akhirnya, dalam beberapa kasus, megahnya prosesi pernikahan tidak sepadan dengan kelanggengan rumah tangga yang mereka bangun.

Ada banyak kisah lucu dari voting kemarin, ada yang bilang bahwa di daerah dia, uang 20 juta itu masih dianggap sedikit untuk ukuran seserahan. Ada yang bilang katanya di daerahnya itu harusnya 50 juta keatas. (tapi dia tidak menyebut daerahnya itu dimana).

Ada juga yang malah curhat, katanya dia pernah bawa uang 30 juta untuk melamar. Tapi ditolak. (so sad)

Sementara itu, ironi yang sering kita lihat, ada yang begitu dipersulit untuk menikah dengan berbagai alasan. Tapi begitu si wanita ketahuan hamil. Langsung segera dinikahkan tanpa banyak kesulitan.

Lho, masa kudu berzina dulu agar dimudahkan menikah?

Banyak juga aktivis yang mengecam perilaku menikah muda. Namun di saat yang sama tidak mengecam perilaku pacaran. Paling ujung ujungnya mereka Cuma mengkampanyekan “save sex”.

Lho, kalau berzinanya pakai kondom emang nggak dosa ya?

Harusnya sih adil saja. Kalau memang melarang nikah muda, maka dilarang juga pacaran. Jangan Cuma yang nikah yang dibully. Yang pacaran malah dibiarkan. Tentu saja, menikah tanpa ilmu itu berisiko, apalagi kalau usia masih terlalu muda dan sikap belum dewasa.

Tapi pacaran juga banyak resikonya.

Seharusnya, kita adil dalam menempatkan sebuah permasalahan.

Nah, setidaknya, kalau generasi bapak bapak kita masih menganut kebiasaan lama yang memberatkan pasangan yang hendak menikah, semoga generasi kita kelak (kalau sudah jadi bapak bapak yang akan menikahkan anaknya) bisa menjadi generasi yang memudahkan pernikahan.

Persulit zina, permudah nikah. Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *