Nikah Beda Agama, Fakta Yang Kamu Perlu Tahu!

Nikah Beda Agama? Boleh nggak ya?

nikah beda agama boleh?

Biasanya nikah beda agama terjadi karena awalnya mereka pacaran. Nggak ada tuh kami pernah dengar, mereka yang tadinya taaruf trus nikah tapi pasangannya beda agama. (Nah, satu lagi keburukan pacaran terlihat)

Banyak alasan kenapa sepasang kekasih memutuskan menikah meski beda agama : sudah terlanjur sayang, sudah terlanjur kenal keluarganya, atau sudah terlanjur hamil

Intinya udah nggak mau pisah dan sebodo teuing apa kata orang. Karena argumennya ‘love always win‘.

Tapi, tunggu dulu… sebenarnya bagaimana pendapat islam tentang nikah beda agama? Coba deh kita simak penjelasan berikut ini :

Pernikahan Wanita Muslimah dan Pria Non Muslim

Tentang status pernikahan wanita muslimah dan pria non muslim disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. (QS. Al Mumtahanah: 10)

Pendalilan dari ayat ini dapat kita lihat pada dua bagian. Bagian pertama pada ayat,

فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ

Janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada suami mereka yang kafir

Bagian kedua pada ayat,

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ

Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu

Dari dua sisi ini, sangat jelas bahwa tidak boleh wanita muslim menikah dengan pria non muslim (agama apa pun itu).[1]

Ayat ini sungguh meruntuhkan argumen orang-orang liberal yang menghalalkan nikah beda agama dengan lelaki non muslim. Firman Allah tentu saja kita mesti junjung tinggi daripada mengikuti pemahaman mereka (kaum liberal) yang dangkal dan jauh dari pemahaman Islam yang benar.

Penjelasan Ulama Islam Tentang Pernikahan Wanita Muslimah dengan Pria Non Muslim

Para ulama telah menjelaskan tidak bolehnya wanita muslimah menikah dengan pria non muslim berdasarkan pemahaman ayat di atas (surat Al Mumtahanah ayat 10), bahkan hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan,

وأجمعت الامة على أن المشرك لا يطأ المؤمنة بوجه، لما في ذلك من الغضاضة على الاسلام.

“Para ulama kaum muslimin telah sepakat tidak bolehnya pria musyrik (non muslim) menikahi (menyetubuhi) wanita muslimah apa pun alasannya. Karena hal ini sama saja merendahkan martabat Islam.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

هذه الآية هي التي حَرّمَت المسلمات على المشركين

“Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) menunjukkan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik (non muslim)”.[3]

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan,

وفيه دليل على أن المؤمنة لا تحلّ لكافر ، وأن إسلام المرأة يوجب فرقتها من زوجها لا مجرّد هجرتها

“Ayat ini (surat Al Mumtahanah ayat 10) merupakan dalil bahwa wanita muslimah tidaklah halal bagi orang kafir (non muslim). Keislaman wanita tersebut mengharuskan ia untuk berpisah dari suaminya dan tidak hanya berpindah tempat (hijrah)”.[4]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,

وكما أن المسلمة لا تحل للكافر، فكذلك الكافرة لا تحل للمسلم أن يمسكها ما دامت على كفرها، غير أهل الكتاب،

“Sebagaimana wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir, begitu pula wanita kafir tidak halal bagi laki-laki muslim untuk menahannya dalam kekafirannya, kecuali diizinkan wanita ahli kitab (dinikahkan dengan pria muslim).”[5]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Orang kafir (non muslim) tidaklah halal menikahi wanita muslimah. Hal ini berdasarkan nash (dalil tegas) dan ijma’ (kesepakatan ulama). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” Wanita muslimah sama sekali tidak halal bagi orang kafir (non muslim) sebagaimana disebutkan sebelumnya, meskipun kafirnya adalah kafir tulen (bukan orang yang murtad dari Islam). Oleh karena itu, jika ada wanita muslimah menikah dengan pria non muslim, maka nikahnya batil (tidak sah).[6]

Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim hafizhohullah dalam Kitab Adhwaul Bayan (yang di mana beliau menyempurnakan tulisan gurunya , Syaikh Asy Syinqithi), memberi alasan kenapa wanita muslimah tidak boleh nikah beda agama dengan pria non muslim, namun dibolehkan jika pria muslim menikahi wanita ahli kitab. Di antara alasan yang beliau kemukakan: Islam itu tinggi dan tidak mungkin ditundukkan agama yang lain. Sedangkan keluarga tentu saja dipimpin oleh laki-laki. Sehingga suami pun bisa memberi pengaruh agama kepada si istri. Begitu pula anak-anak kelak harus mengikuti ayahnya dalam hal agama.[7] Dengan alasan inilah wanita muslimah tidak boleh menikah dengan pria non muslim.

Pernikahan Pria Muslim dengan Wanita Ahli Kitab

Diperbolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) selama wanita tersebut adalah wanita yang selalu menjaga kehormatannya serta tidak merusak agama si suami dan anak-anaknya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu.” (QS. Al Maidah: 5). Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Wanita ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) boleh dinikahi oleh laki-laki muslim berdasarkan ayat ini.”[8]

Yang dimaksud di sini, seorang pria muslim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab, namun bukan wajib dan bukan sunnah, cuma dibolehkan saja. Dan sebaik-baik wanita yang dinikahi oleh pria muslim tetaplah seorang wanita muslimah. Wanita ahli kitab di sini yang dimaksud adalah wanita Yahudi dan Nashrani. Agama Yahudi dan Nashrani dari dahulu dan sekarang dimaksudkan untuk golongan yang sama dan sama sejak dahulu (di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yaitu wahyu mereka telah menyimpang. Silakan baca artikel “Siapakah Ahlul Kitab?”.

Catatan penting di sini, jika memang laki-laki muslim boleh menikah dengan wanita ahli kitab, maka pernikahan tentu saja bukan di gereja. Dan juga ketika memiliki anak, anak bukanlah diberi kebebasan memilih agama. Anak harus mengikuti agama ayahnya yaitu Islam. Lihat keterangan dari Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim di atas.

Sedangkan selain ahli kitab (seperti Hindu, Budha, Konghucu) yang disebut wanita musyrik, haram untuk dinikahi. Hal ini berdasarkan kesepakatan para fuqoha. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلاَ تَنكِحُواْ الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al Baqarah: 221)[9]

Menurut para ulama, laki-laki muslim sama sekali tidak boleh menikahi wanita yang murtad meskipun ia masuk agama Nashrani atau Yahudi kecuali jika wanita tersebut mau masuk kembali pada Islam.[10]

Sumber : https://rumaysho.com/1174-nikah-beda-agama.html/comment-page-5

Nah, sekarang sudah jelas ya…. kalau Oppa Kyu Hyun, Gong Yoo atau Park Ji Sung melamar kamu, jangan diterima ya?

Tetaplah mencari imam rumah tangga yang muslim taat saja. Biar bisa sama sama mendekat pada JannahNya.

Oh iya, persoalan nikah beda agama ini pernah kami tulis dalam satu bagian tersendiri pada buku SAH : SUDAHI ATAU HALALKAN.

kalau berkenan, silahkan baca. Bukunya tersedia di Gramedia. harganya cuma 55 ribu. Kalau kebetulan nggak nemu di gramedia dekat rumah kamu, coba saja tanya petugasnya dulu, soalnya di beberapa gramed memang stoknya menipis dan mulai habis. Padahal sudah dicetak ulang beberapa kali dan tercatat lebih dari 10 ribu buku sudah terjual.

nikah beda agama di Sudahi Atau Halalkan

Insya Allah habis lebaran ini mau cetak ulang lagi, mohon doanya ya…

Buat yang nggak jadi nikah sama pacarnya karena beda agama dan memilih putus. Tapi kemudian gagal move on, baca deh 11 Tips Move On Dari Mantan

 

3 thoughts on “Nikah Beda Agama, Fakta Yang Kamu Perlu Tahu!

  1. Assalamualaikum wr wb
    Saya mau bertanya..
    Pernah saya mendengar. Bahwa jika ada wanita hamil sebelum menikah. Kemudian dia melahirkan anak perempuan. Maka si anak tidak mendapatkan hak wali ketika menikah..
    Saya juga pernah mendengar, bahwa ketika ada wanita muslim menikah dengan laki” nasrani, si wanita tetap islam dan si lelaki tetap nasrani maka mereka tetap saja berzina sekalipun telah menikah beda agama.
    Yang saya tanyakan.
    Ketika ada wanita muslim menikah dengan lelaki nasrani, mereka menikah secara katolik, tetapi si wanita tetap islam dan si lelaki tetap nasrani, hingga kemudian si wanita melahirkan anak perempuan. Dan si laki laki ini baru pindah islam ketika si anak perempuan ini berumur 2 tahun. Kemudian si wanita dan si laki” ini menikah kembali secara islam di KUA.. lalu bagaimanakah status si anak perempuan ini?? Apakah si anak perempuan ini berhak mendapatkan wali ketika menikah dari ayah kandungnya?? Ataukah tidak dikarenakan ketika dia lahir ayahnya masih katolik, barulah ketika si anak ini berumur 2 tahun ayahnya baru pindah islam..
    Mohon jawabannya. Terimakasih
    Wassalamualaikum wr wb

    1. waalaikumussalaam warohmatullohi wabarokaatuh…
      mba Vi yang baik. Mungkin kami bukan orang yang tepat untuk ditanya karena ilmu agama kami juga masih dangkal. Namun sepanjang yang kami ketahui, memang benar bahwa wanita yang menikahi lelaki non muslim (apalagi nikahnya secara katolik) maka nikahnya nggak sah. Nah dikhawatirkan status anaknya lahir di luar ikatan pernikahan yg sah, sehingga si bapak biologis tidak punya hak pada si anak (meski kemudian masuk islam dan menikah resmi). tetap si anak tidak memiliki nasab bapaknya dan tidak mewarisi harta bapaknya. sehingga ketika menikah memakai wali yang ditunjuk negara. wallahu a’lam. coba tanya ke ustadz saja.

      1. Sepengetahuan saya juga seperti itu.. Boleh saya dibantu untuk ditanyakan dan mendapatkan jawabannya?
        Saya akan sangat berterimakasih kasih jika dibantu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *