Apa perbedaan tunangan dan khitbah?

perbedaan tunangan dan khitbah itu apa sih? pernah nggak kamu punya pertanyaan semacam itu?

apa perbedaan tunangan dan khitbah

Suatu hari seorang sahabat bertanya, “kak, apa perbedaan tunangan dan khitbah?”

Selama ini banyak yang mengira tunangan sama dengan khitbah. Sehingga mereka menganggap budaya tunangan yang sering terjadi di masyarakat adalah hal yang sesuai syariat agama. jadi ya sah sah saja dilakukan dan dilestarikan. bahkan, ada yang bertunangan sampai lebih dari setahun sebelum akhirnya benar benar menikah. ada juga uang menganggap bahwa menikah tanpa tunangan ibarat sayur sop tanpa mecin. kurang asoy.

Padahal, ada perbedaan yang jelas antara tunangan dan khitbah.

apa saja perbedaan tunangan dan khitbah?

Tunangan itu sebenarnya nggak ada dalam agama islam. Budaya tunangan cenderung meniru budaya non muslim dengan tukar cincin dan sebagainya. Bilangnya mengikat, tapi tidak ada dasar ikatannya dalam hukum agama maupun negara.

Sedangkan khitbah itu lamaran. Ada dalam agama islam sebagai pintu masuk pernikahan. Bila lamaran diterima maka langsung direncanakan waktu akad nikahnya.

Wanita yang sudah dilamar seorang lelaki dan dia menerima. Maka tidak bisa dilamar lelaki lain. Kecuali apabila si lelaki yang diterima lamarannya itu kemudian memutuskan untuk membatalkan lamaran karena sesuatu hal.

Perbedaannya apa lagi?

biasanya tunangan ini lama waktunya sampai menikah, karena orang yang mengajak tunangan biasanya  dalam kondisi belum siap menghalalkan, baik secara materi, mental, adat, atau faktor lain.

Sedangkan dalam khitbah, kedua belah pihak telah siap untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.

Ketika kami menjawab pertanyaan sahabat kami tadi, kami memberi beliau saran agar sebaiknya tidak usah pakai tunangan. karena salah satu dari alasan tunangan adalah belum siap menikah namun tidak ingin kehilangan. padahal seharusnya kalau belum siap nikah ya putus saja dan puasa menahan diri.
Kalau udah siap nikah langsung lamar dan akad.

Karena terkadang, mereka yang sudah tunangan merasa sudah terikat. Dan merasa saling memiliki (pasti akan menikah). sehingga dalam beberapa kasus mereka menjadi lebih intim daripada yang berpacaran. ini jelas menabrak batas aturan agama.

Itu yang berbahaya.

 

melengkapi pembahasan diatas, ada masukan dari salah satu pembaca :

@Anonim:

Khitbah punya akar kata yg sama dgn khutbah, yaitu khothoba, artinya mengungkapkan. Dia bukan sekedar berkata (qola – yaqulu), dengan artian ada penegasan, ada pesan yg jelas. Media khitbah bisa via keluarga, bisa langsung disampaikan oleh pihak laki2 kepada wali si perempuan, terutama jika perempuannya masih perawan atau blm pernah bersuami. Karena perempuan tsb ada dalam naungan walinya, maka adab dlm islam adalah mengetuk pintu dari depan (meminta izin walinya), bukan lewat jalan belakang (backstreet). Terkadang diamnya perempuan sering dianggap iya oleh sebagian orang, namun perlu juga dibaca keseluruhan bahasa wajah dan tubuhnya, dan dikonfirmasi ulang secara lisan. jika perempuannya sdh janda keputusan diserahkan langsung kpdnya. Menerima atau tidak. Nah klo yg perawan, walinya lebih berhak memutuskan tentunya setelah cek dan ricek agama dan ahlak sang pelamar dan mengkomfirmasi kesediaan anak perempuan atau yang diwaliinya.

Biasanya pihak laki2 tak siap ditolak dalam lamaran dan mengkonfirmasi secara pribadi kepada pihak perempuan alias japri. Nah, bagusnya jika komunikasi terjadi secara langsung, mereka berdua membawa mahromnya agar tidak ada syetan sebagai pihak ketiga yang merusak acara. Jika komunikasinya via media (telp, sms, skype, wa, line, google duo, dllsb), batasi komunikasi scr frekuensi dan durasinya, krn ta’aruf sblm khitbah jadi sasaran empuk syetan untuk menyimpangkan jalan cinta suci ke cinta pra-halal berlabel ta’aruf. Banyak media ta’aruf selain japrian. Bisa pakai bio-profil, bisa via penuturan keluarga, bisa via rekam jejak dan keterangan dari teman dekat. Jangan khawatir, bahkan ta’aruf (saling mengenal hal2 luar), tafahum (saling memahami hal2 di balik yg terlihat), ta’awun (saling menolong), dan itsar (mendahulukan yg dicintai krn Allah), akan terus berlangsung setelah pernikahan.

Maka, jika japrian saja blm termasuk khitbah, tapi kalo sdh datang ke wali si perempuan, mengutarakan niat dan kesungguhan, baru dikatakan khitbah. Masalah diterima atau ditolak itu mah gmn jodoh, taqdirnya Allah sdh menentukan sejak ruh kita ditiupkan ke dalam rahim di hari ke 40 pasca konsepsi.

Makanya ada istikhoroh (memohon dipilihkan pilihan terbaik dari Allah), dan musyawarah antar keluarga adalah jalan terindah dari Islam untuk membimbing dan membingkai cinta yg penuh berkah.

Istilahnya: tidak akan kecewa orang yg beristikhoroh dan tidak merugi orang yang bermusyawarah.

 

@anggun rahmadani:

Yg berhak memutuskan lamaran diterima / ditolak adalah pihak perempuan. Ini dalam hal respon. Karena laki2 berhak melamar perempuan, selama peremuan itu blm dilamar sblmnya oleh lelaki lain / ia sdh menolak dg jelas lamaran dr laki2 sblmnya. Dan perempuan pun berhak menerima ataupun menolak lamaran dari lelaki non-mahrom yg dikenalnya.

Tentu saja respon diterima atau tidaknya ini disampaikan oleh pihak keluarga atau walinya dg harapan ia akan dpt disampaikan dg lebih bijaksana, melindungi psikologis kedua belah pihak, dan alasan diterima atau tidaknya lamaran cukup jelas dan dg bahasa yg santun.

Karena terkadang yg mungkin terjadi adalah pertengkaran antar 2 keluarga atau antar 2 orangtua laki2 dan perempuan.

Adapun dr pihak laki2 jika di kemudian hari ada hal2 yg stlh diamati, dita’arufi, atau hasil istikhoroh dan keterangan2 lain yg didapati oleh pihak laki2 membuatnya ragu untuk melanjutkan proses khitbah ke pernikahan, maka pihak laki2 dapat membatalkan khitbahnya. Ini tentu saja juga dengan adab yg santun dan komunikasi yg respectfull disertai permohonan maaf yg tulus. Karena kebaikan selanjutnya tetap diharapkan dari kedua belah pihak keluarga.

Jangan sampai cancelation / pembatalan suatu khitbah menjadi penyebab diblacklistnya suatu keluarga dari khitbahan2 selanjutnya, baik si pelamar laki2 tersebut ataupun anggota keluarganya yg lain.

Sekali lagi, via wali jangan via japri. Karena settlement atau penyelesainnya akan lebih menentramkan dan menyelamatkan.

Wallahul musta’aan (dan Allah lah yg lebih berhak kita mintai pertolongan sebelum meminta bantuan kepada manusia).

Wassalamu’alaikum.

 

semoga bermanfaat….

10 thoughts on “Apa perbedaan tunangan dan khitbah?

  1. MasyaAllah, nambah ilmu dan enak bacanya, jadi lebih jelas bedanya tunangan dan khitbah. Jazakumullah khair ilmunya ?

    1. sama-sama. sering sering mampir sini ya, Insya Allah secara berkala akan kami update artikel baru 🙂

  2. Assalamualaikum. Mau tanya, jika seandainya seorang laki2 dan perempuan diperkenalkan lewat keluarga langsung. Dan dalam waktu dekat laki2 tersebut menyampaikan niat nya untuk menikahi si perempuan langsung kepada yang bersangkutan. Namun si perempuan tidak langsung memberi jawaban. Jika dalam waktu dekat si perempuan memberikan jawaban iya kepada laki2 tersebut dan segera menentukan tanggal pernikahan, apakah ini sudah termasuk khitbah? Mohon penjelasannya

  3. Assalamualaikum. Mau tanya, jika seandainya seorang laki2 dan perempuan diperkenalkan lewat keluarga langsung. Dan dalam waktu dekat laki2 tersebut menyampaikan niat nya untuk menikahi si perempuan langsung kepada yang bersangkutan. Namun si perempuan tidak langsung memberi jawaban. Jika dalam waktu dekat si perempuan memberikan jawaban iya kepada laki2 tersebut dan segera menentukan tanggal pernikahan, apakah ini sudah termasuk khitbah? Mohon penjelasannya

  4. Assalamu’alaikum ukhti, kami pacarn hampir 6tahun, lebaran th ini pacar sy dtg kerumah dn melamar sy, dg rencana menikah 1 tahun lagi. Tetapi karena suatu hal hati sy tiba2 berbalik arah. Tidak ingin menikah dg dia dan memutuskan lamaran. Apakah tidak masalah jika yg memutuskan lamaran dr pihak perempuan? Dan proses memutuskan tsb seperti apa ya ukhti..

    1. saya lelaki mba 🙂 bukan ukhti ukhti… untuk masalah ini saya tidak tahu jawabannya. sebaiknya tanya ustad aja di konsultasi syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *